Wednesday, May 28, 2014

Cara Bekerja dengan Baik

Ada seorang mandor dari perusahaan kontraktor bangunan menghadap kepada pimpinannya. Dia mengajukan pengunduran diri karena merasa dirinya sudah tua dan telah lebih dari 30 tahun mengabdi.

Setelah mendengar maksud kedatangannya, sang pimpinan berkata, “Yah, dengan berat hati kami akan melepas Pak Mandor. Perusahaan ini sebenarnya masih membutuhkan tenaga dan pengalaman Bapak. Sebab, Anda adalah salah satu pekerja terbaik yang dimiliki oleh perusahaan ini. Tetapi, ada satu permintaan saya, sebelum Pak Mandor pensiun dan pergi dari sini, kami minta Bapak membuat dan menyelesaikan satu unit rumah pesanan lagi.”

Demi meninggalkan kesan baik dan mengabulkan permintaan pimpinan yang terakhir itu, mandor itu tidak keberatan mengerjakannya. Keesokan harinya, dia mulai bekerja seperti biasa, untuk rumah terakhir yang harus diselesaikan. Hanya saja, ada yang berbeda kali ini. Dia bekerja tidak segiat sebelumnya. Dia tidak seteliti seperti dulu ketika memilih berbagai bahan-bahan bangunan dan alat-alat yang akan digunakan. Dia tidak sepeduli dulu dalam menjaga kualitas rumah yang sedang dibangun. Maka tidak mengherankan apabila pesanan rumah itu akhirnya dapat diselesaikannya dalam waktu yang relatif singkat dan lebih cepat daripada biasanya, meski dengan kualitas seadanya.

Kemudian dengan penuh semangat, si mandor menemui pimpinannya untuk memberi laporan dan menyerahkan kunci-kunci rumah beserta detail kelengkapannya. Sang pimpinan menerima kunci rumah itu lalu berkata, “Terima kasih Pak Mandor, kami harus merelakan Bapak berhenti bekerja di perusahaan ini. Apapun yang telah Bapak abdikan selama ini rasanya tidak dapat kami hargai dengan materi. Sebagai tanda terima kasih, saya selaku pribadi dan mewakili perusahaan tidak dapat memberikan apa-apa, kecuali ini.” Seraya mengucapkan itu, sang pimpinan menyerahkan kembali kunci rumah itu kepada mandornya. “Terimalah rumah ini sebagai hadiah dari perusahaan untuk Bapak beserta keluarga Bapak.”

Pak mandor terdiam, tertunduk malu dan kecewa. “Terima kasih, Pak, Saya atas nama keluarga sangat menghargai pemberian rumah dari perusahaan tempat saya menghabiskan masa kerja. Sesungguhnya saya merasa malu dan kecewa dengan diri saya sendiri, karena rumah pesanan terakhir yang baru saja saya selesaikan, tidak saya kerjakan dengan sebaik-baiknya. Dan ternyata, justru rumah itulah yang diberikan kepada saya dan akan menjadi rumah milik saya satu-satunya.”
ada seorang mandor dari perusahaan kontraktor bangunan menghadap kepada pimpinannya. Dia mengajukan pengunduran diri karena merasa dirinya sudah tua dan telah lebih dari 30 tahun mengabdi.

Setelah mendengar maksud kedatangannya, sang pimpinan berkata, “Yah, dengan berat hati kami akan melepas Pak Mandor. Perusahaan ini sebenarnya masih membutuhkan tenaga dan pengalaman Bapak. Sebab, Anda adalah salah satu pekerja terbaik yang dimiliki oleh perusahaan ini. Tetapi, ada satu permintaan saya, sebelum Pak Mandor pensiun dan pergi dari sini, kami minta Bapak membuat dan menyelesaikan satu unit rumah pesanan lagi.”

Demi meninggalkan kesan baik dan mengabulkan permintaan pimpinan yang terakhir itu, mandor itu tidak keberatan mengerjakannya. Keesokan harinya, dia mulai bekerja seperti biasa, untuk rumah terakhir yang harus diselesaikan. Hanya saja, ada yang berbeda kali ini. Dia bekerja tidak segiat sebelumnya. Dia tidak seteliti seperti dulu ketika memilih berbagai bahan-bahan bangunan dan alat-alat yang akan digunakan. Dia tidak sepeduli dulu dalam menjaga kualitas rumah yang sedang dibangun. Maka tidak mengherankan apabila pesanan rumah itu akhirnya dapat diselesaikannya dalam waktu yang relatif singkat dan lebih cepat daripada biasanya, meski dengan kualitas seadanya.

Kemudian dengan penuh semangat, si mandor menemui pimpinannya untuk memberi laporan dan menyerahkan kunci-kunci rumah beserta detail kelengkapannya. Sang pimpinan menerima kunci rumah itu lalu berkata, “Terima kasih Pak Mandor, kami harus merelakan Bapak berhenti bekerja di perusahaan ini. Apapun yang telah Bapak abdikan selama ini rasanya tidak dapat kami hargai dengan materi. Sebagai tanda terima kasih, saya selaku pribadi dan mewakili perusahaan tidak dapat memberikan apa-apa, kecuali ini.” Seraya mengucapkan itu, sang pimpinan menyerahkan kembali kunci rumah itu kepada mandornya. “Terimalah rumah ini sebagai hadiah dari perusahaan untuk Bapak beserta keluarga Bapak.”

Pak mandor terdiam, tertunduk malu dan kecewa. “Terima kasih, Pak, Saya atas nama keluarga sangat menghargai pemberian rumah dari perusahaan tempat saya menghabiskan masa kerja. Sesungguhnya saya merasa malu dan kecewa dengan diri saya sendiri, karena rumah pesanan terakhir yang baru saja saya selesaikan, tidak saya kerjakan dengan sebaik-baiknya. Dan ternyata, justru rumah itulah yang diberikan kepada saya dan akan menjadi rumah milik saya satu-satunya.” (MM) artikel motivasi lainnya

Program Guru Pembelajar 2016

Guru pembelajar merupakan program diklat Kemdikbud pasca UKG 2015 lalu dimana masih banyak nilai UKG nya yang di bawah standar. Istilah Guru...