Friday, June 20, 2014

Belajar Menurut Pandangan Islam

Belajar merupakan proses orang memperoleh kecakapan, keterampilan, dan sikap. Belajar dimulai dari masa kecil sampai akhir hayat seseorang. Rasulullah SAW., menyatakan dalam salah satu hadistnya bahwa manusia harus belajar sejak dari ayunan hingga liang lahat. Orang tua wajib membelajarkan anak-anaknya agar kelak dewasa ia mampu hidup mandiri dan mengembangan dirinya, demikian juga sebah sya’ir Islam dalam baitnya berbunyi; “belajar sewaktu kecil ibarat melukis di atas batu”. Neisser (1976) (dalam Yamin, 2005:97) menyebutkan bahwa anak-anak membutuhkan pengetahuan awal, dan memiliki keyakinan, kepercayaan yang masih semu, di samping itu anak-anak memiliki banyak pengharapan akan sesuatu, pada masa itu anak-anak membutuhkan banyak belajar dan memungkinkan memberi pengetahuan kepadanya.
Para ahli ilmu jiwa pendidikan menekankan supaya pembentukan perilaku yang baik sudah dimulai membiasakan tidur lebih cepat, belajar renang, lari, olah raga, membiasakan agar jangan meludah di tempat umum, jangan membelakangi di mana ada orang lain, jangan berdusta, jangan suka bersumpah, baik benar ataupun salah, menghormati kedua orang tua, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi adik-adik yang umur dibawanya. Kebiasaan sehat seperti ini lebih tepat ditanam pada usia masih kecil, pepatah mengatakan “masa kecil terbiasa dan dewasa terbawa-bawa”. Bagaimana bentuk seorang anak, begitulah hantinya setelah dewasa. Ada suatu kewajiban bagi seorang guru sewaktu memberi pelajaran untuk merubah perilaku dengan mengaitkan materi budi pekerti, moral, akhlak, agar siswa terbiasa dengan yang baik dan benar, pada intinya pembelajaran merubah perilaku siswa kepada yang baik dan benar.
Al Gazali dalam bukunya “Ihyaa ‘Ulumuddin”, Jilid III halaman 63 (dalam Yamin, 2005:98) menyebutkan anak-anak harus sejak kecilnya dibiasakan kepada adat kebiasaan yang terpuji sehingga menjadi kebiasaan bila ia sudah dewasa, demikian juga antara lain: Melatih anak-anak adalah suatu hal yang terpenting dan perlu sekali. Anak-anak adalah suatu hal yang terpenting dan perlu sekali. Anak-anak adalah amanah di tangan ibu-bapaknya, hatinya masih suci ibarat permata yang mahal harganya, maka apabila ia dibiasakan pada suatu yang baik dan dididik, maka ia akan besar dengan sifat-sifat baik serta akan berbahagia dunia akhirat. Sebaliknya jika terbiasa dengan sifat-sifat buruk, tidak dipedulikan seperti halnya hewan, ia akan hancur dan binasa. Pemeliharaan ayah dan ibu terhadap anaknya ialah dengan jalan mendidik, mengasuh dan mengajarnya dengan akhlak atau moral yang tinggi dan menyingkirkannya dari teman-teman yang jahat. Di saming itu Al Gazali mengatakan meskipun pada anak-anak menampakkan tanda-tanda kecerdasan, perlu penjagaan, pengawasan yang baik, manakala ayah, ibunya lalai dalam memelihara bakat itu, kecerdasan yang merupakan potensi, bakat tadi akan sirna (dalam Yamin: 2003:98).
Ahli ilmu jiwa anak mengatakan jangalah terlalu sering memaki, mencela anak-anak setiap kali yang mengakibatkan ia menganggap enteng tiap-tiap celaan dan tarus melakukan kejahatan-kejahatan, dan hilanglah pengaruh nasehat dalam hatinya. Ayah, ibu harus memelihara janji-janji dengan anak, manakala janji dilanggar akan membuatkan anak-anak tidak memiliki kepercayaan terhadap ayah dan ibu.
Proses belajar telah dimulai sejak kecil, pada umur 1,6 s.d . 7 tahun. Masa ini menurut Ph. A. Kohnstamm adalah masa estetika/masa keindahan, anak memandang dan mengamati dunia sekelilingnya dengan suatu keindahan (dalam Yamin, 2005:99). Ia asyik dan tenggelam dalam bermain, mendengar cerita yang sesuai dengan fantasinya, dan mencoba mengenal benda-benda yang ada di sekitarnya dan tertarik terhadap benda-benda yang warna mencolok, aneh menurutnya, dan berusaha untuk mengenalinya.
Pada usia dini anak-anak banyak bertanya tetang apa yang ia lihat dan belajar mengenali sesuatu melalui lingkungannya, seperti anak ingin tahu tentang kelapa, ia bertanya kepada ibu, “ini apa, bu?”, tentu sang ibu menjawa; “ini kelapa”, kemudian anak bertanya lagi, “itu apa?”, ibu menjawab “kelapa”, yang tadi kelapa hijau, dan ini kelapa kuning”, pertanyaan anak anak berlanjut terus, aya, ibu, dan orangtua memiliki peran besar dalam membimbing, mengarahkan belajar anak pada usia ini (ayah, ibu, dan keluarga merupakan pendidik utama). Jika pertanyaan anak tidak dijawab, pengalamannya tidak bertambah. Peran aktif ayah, ibu, dan orang tua diharapkan sewaktu mengajak anak bermain-main, ayah, ibu, kakak, kakek, dan nenek lebih banyak mengenalkan sesuatu kepada anak, walaupun anak tidak bertanya, kita yang melempar pertanyaan kepadanya, seperti; “itu apa?’, “itu ayam”, penjelasan tentang sesuatu sebaiknya diulang, seperti; ayam, dan sebagainya.
Gagne (1984) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses di mana organisma berubah perilakunya diakibatkan pengalaman. Demikian juga Harold Spear mendefinisikan bahwa belajar terdiri dari pengamatan, pendengaran, membaca, dan meniru (dalamYamin: 2003:99).
Definisi belajar di atas ini mengandung pengertian bahwa belajar adalah perubahan perilaku seseorang akibat pengalaman yang ia dapat melalui pengamatan, pendengaran, membaca, dan meniru. Manusia adalah makhluk yang berbudaya, berfikiran moderen, cekatan, pandai, dan bijaksana diperdapat melalui proses membaca, melihat, mendengar, dan meniru. Seseorang umpamanya belajar dengan mengagumi suatu objek, figure melalui bacaan, pengamatan, dan pendengaran yang kemudian disenangi dan dikaguminya seperti tertarik pada keindahan, kerapian, kedamaian objek, demikian pula seorang figure atau tokoh yang dikenal melalui pengamatan, bacaan, drama, sineron dan figure tadi memiliki pengaruh terhadap masyarakat lain karena dia berkata benar, logis dan nyata, maka pengamat yang tertari itu berupaya untuk meniru dan mengikutinya.
Kita dianjutkan lebih banyak membaca sebab membaca merupakan kegiatan belajar seseorang. Kita harus mampu membaca informasi, membaca pengetahuan, membaca situasi, membaca informasi, membaca pengetahuan, membaca situasi tentang ketata negaraan, membaca norma-norma agama dan lain sebagainya agar mampu hidup di dalam masyarakat. Membaca merupakan kegiatan yang penting. Perintah pertama Allah SWT., kepada RasulNya adalah perntah membaca. Membaca tidak hanya sekendar tulisan tetapi kita juga mampu membaca hal-hal yang tidak tertulis, membaca gejala-gejala alam, membaca situasi kenegaraan, membaca data-data, proposisi-proposisi yang ada agar kita berpengatahuan tentang itu, dan tahu tentang infirmasi tersebut, Alvin Tofler seorang tokoh komunikasi menyebutnya “Siapa yang menguasai informasi maka dialah yang menguasai dunia” (dalam Yamin, 2005:99)
Belajar melalui meniru, mencontoh perilaku yang baik sangat dilanjutkan oleh sebab itu sosok seorang guru adalah sosok yang dapat ditiru atau dicontoh oleh siswa. Suatu masyarakat yang berbudaya tinggi, berfikir maju, perkembangannya berlangsung dari proses meniru yang didapat dari lingkungannya, perkembangan suatu ilmu pengetahuan diakibatkan oleh meniru, ilmu manajemen berkembang di Perancis secara histories dari kandang kura, istilah manajemen berasal darikata “manege” atau “manage” yang memiliki arti, “tempat latihan kuda”, “tempat menjinakkan kuda” di mana ia berhasil mengelola dan menjinakan kuda-kuda liar (Atmosudirdjo, 1982:33) (dalam Yamin, 2005:101). (MM) baca artikel terbaik lainnya

Program Guru Pembelajar 2016

Guru pembelajar merupakan program diklat Kemdikbud pasca UKG 2015 lalu dimana masih banyak nilai UKG nya yang di bawah standar. Istilah Guru...