Friday, June 20, 2014

Berpikir Positif yang Benar

diambil dari = Adi W. Gunawan
Sering kali kita merasa yakin, diyakinkan, atau asal percaya bahwa kita harus berpikir positip. Menurut berbagai buku dan motivator atau trainer berpikir positip baik bagi diri kita. Yang jarang diungkapkan adalah bahwa berpikir positip itu harus benar-benar tulus dan holistik.
Yang saya maksudkan dengan holistik adalah baik pikiran sadar maupun bawah sadar keduanya saling setuju, sinkron, kongruen dalam berpikir positip.
Ambil contoh orang yang menetapkan target penjualan. Misalnya target bulan ini adalah 50% lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Pikiran sadar kita ”percaya”, lebih tepatnya dipaksa untuk percaya, bahwa kita mampu mencapai target ini. Kita melakukan afirmasi setiap hari, menempel kata-kata positip di berbagai tempat, dan melakukan visualisasi. Apa yang terjadi?
Ternyata ada bagian dari diri kita yang menolak hal ini karena kenaikan target dianggap terlalu tinggi sehingga dirasa tidak mungkin bisa dicapai. Akibatnya kita tidak berhasil mencapai target ini. Namun kita tetap ”percaya” dan ”positive thinking” bahwa kita dapat mencapai apapun asal kita yakin.
Lalu apa yang kita lakukan ? Kata orang, ”Kegagalan adalah sukses yang tertunda”, ”Tidak penting berapa kali kita jatuh yang penting adalah kita bangkit setiap kali kita jatuh”, ”Tidak ada namanya kegagalan, yang ada adalah hasil yang tidak kita inginkan”, dan masih banyak lagi kata-kata mutiara berkenaan dengan kegagalan. So.... ? Keep trying..... pokoke maju tak gentar, pantang menyerah.
Setelah dua bulan, tiga bulan, empat bulan, dan kita masih belum berhasil mencapai goal kita maka kita mulai merasa tidak nyaman. Tapi kita tetap berusaha berpikir positip. Why? Karena memang begitulah yang kita baca di buku-buku positip.
Lalu, mengapa ”berpikir” positip justru akan sangat berbahaya bagi diri kita ? Pada kasus di atas, yang terjadi sebenarnya adalah kita, secara tidak sadar, telah mengedukasi pikiran bawah sadar bahwa kita sebenarnya memang tidak kompeten alias gagal. Lho, kok bisa begitu ? Lha, buktinya kita sudah berkali-kali tidak berhasil mencapai target. Pikiran sadar kita dapat kita paksa untuk berpikir positip. Namun pikiran bawah sadar kita tidak bisa kita bohongi. Setiap kali kita gagal mencapai goal maka pikiran bawah sadar diedukasi dengan suatu pelajaran negatip, ”Ternyata memang saya nggak bisa mencapai goal ini”. Dengan mengalami kegagalan beruntun maka efek repetisi terjadi (ingat prinsip pemrograman pikiran). Dan kita, secara bawah sadar, semakin percaya bahwa kita memang tidak mampu.
Kalau anda tidak percaya apa yang saya jelaskan coba anda rasakan perasaan anda saat saya berkata, ”Set Goal”. Bagaimana perasaan anda saat anda melakukan Goal Setting. Apakah yang muncul perasaan positip atau negatip ?
Dari pengalaman saya, kata ”goal setting” ternyata mempunyai konotasi negatip. Mengapa ? Karena kata ini mengingatkan kita akan kegagalan kita. Banyak kawan saya yang secara jujur berkata, ”Sekarang kalau saya diminta set goal maka perasaan saya langsung menolak. Ada perasaan tidak nyaman dan cukup mengganggu di hati saya. Tidak tahu kenapa bisa seperti ini”.
Sebenarnya jawabannya sederhana. Goal karena terlalu sering tidak berhasil dicapai akhirnya mempunyai konotasi negatip. Kita secara bawah sadar menghubungkan / meng-anchor kata goal setting dengan perasaan gagal. Jadi setiap kali kita mendengar kata ”goal setting” maka yang muncul adalah memori atau pengalaman kita saat gagal (berkali-kali) dalam mencapai goal kita.
Jadi, semakin seseorang berusaha untuk positip maka semakin negatip ia jadinya. Mengapa bisa begini ? Karena memori manusia bersifat holographic sehingga mempunyai kemampuan / sifat cross referenced. Artinya, tidak ada memori yang berdiri sendiri. Semuanya saling terkait. Saat kita berusaha positip maka pada saat yang sama pula kita mengaktifkan memori negatip, di bawah sadar. Semakin kita berusaha positip maka semakin kuat efek negatip. Hal ini jarang disadari dan dimengerti orang.
Seorang kawan yang bergerak di bidang marketing, satu minggu setelah menerapkan konsep keselarasan pikiran positip (sadar dan bawah sadar) mampu meningkatkan penghasilan 3 (tiga) kali lipat dibandingkan sebelumnya. Dan yang lebih hebat lagi ia tidak usah kerja keras untuk mencapai hal ini. Kesannya adalah semua sudah ada yang mengatur.
Satu hal yang perlu anda ketahui yaitu kawan saya ini adalah orang yang selalu berusaha berpikir positip, telah membaca sangat banyak buku positip, menghadiri berbagai seminar di dalam negeri dan di luar negeri. Ia malah telah bertemu dengan dua orang top. Seorang di bidang motivasi dan seorang lagi adalah penulis buku keberhasilan finansial yang sangat terkenal. Sudah tentu ia membayar sangat mahal untuk bisa menghadiri seminar-seminar­ ini. Apalagi seminarnya dilakukan di Singapore.
Namun apa yang terjadi ? Semakin ia berusaha positip maka semakin dalam ia terperosok ke dalam perangkap berpikir negatip. Kawan saya ini protes keras saat pertama kali mendengar tentang ”Bahaya Berpikir Positip”. Baginya pernyataan ini tidak masuk akal. Namun setelah berdiskusi cukup panjang kawan saya akhirnya bisa memahami maksud saya.
Lalu bagaimana cara berpikir positip yang benar-benar positip ? Ya itu tadi. Pikiran sadar dan bawah sadar harus selaras. Yang harus menjadi landasan pijak adalah apa yang ada di pikiran bawah sadar. Jadi, untuk benar-benar mampu berpikir positip yang positip maka pikiran positip itu harus berawal di pikiran bawah sadar. Bila ini berhasil kita lakukan maka efeknya akan sangat luar biasa. Kita akan dapat dengan sangat mudah mencapai target yang kita inginkan. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Program Guru Pembelajar 2016

Guru pembelajar merupakan program diklat Kemdikbud pasca UKG 2015 lalu dimana masih banyak nilai UKG nya yang di bawah standar. Istilah Guru...