Thursday, June 19, 2014

Definis Strategi Kognitif dalam Pembelajaran

Strategi kognitif (Gagne, 1974) (dalam Yamin, 2005:5) adalah kemampuan internal seseorang untuk berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Kemampuan strategi kognitif menyebabkan proses berpikir unik di dalam menganalisis, memecahkan masalah, dan di dalam mengambil keputusan. Kemampuan dan keunikan berpikir tersebut sebagai executive control, atau disebut dengan control tingkat tinggi, yaitu analisis yang tajam, tepat dan akurat. Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan dunia politik Indonesia kini, mereka yang memiliki kemampuan kognisi yang tinggi sebegitu mudah memecahkan masalah akan tetapi begitu mudah pula membalik fakta, konsep, dan prinsip atas kepentingan politik yang mereka dukung, demikian sebaliknya kemampuan kognisi rendah mereka tiada pernah mengambil terobosan hanya pak turut saja.
Demikian pula dengan Bell-Gredler (1986) (dalam Yamin, 2005:5), menyebutkan strategi kognisi sebagai suatu proses berpikir induktif, yaitu membuat generalisasi dari fakta, konsep, dan prinsip tidak berkaitan dengan ilmu yang dimiliki seseorang, melainkan suatu kemampuan berpikir internal yang dimiliki seseorang dan dapat diterapkan dalam bebagai bidang ilmu yang dimiliki seseorang. Namum latar belakang pendidikan formal sangat mempengaruhi dalam keterampilan berpikir seseorang, karena mereka telah dibekali dengan analisis, sintesis, dan evaluasi. Dengan kemampuan berpikir ini siswa-siswa dapat hidup mandiri, dan membambil keputusan menganalisis, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan dari fenomena-fenomena di sekitar mereka.
Strategi kognisi merupakan kapabilitas yang mengatur cara bagaimana siswa mengelola belajarnya, ketika mengingat-ingat, dan berpikir, ia juga merupakan proses pengendali atau pengatur pelaksana tindakan. Strategi kognitif mempengaruhi perhatian siswa terhadap stimulus-stimulus, skema penyususan sandi yang dilakukan siswa, dan “tumpukan” informasi yang disimpan dalam ingatan. Kapasitas ini juga mempengaruhi strategi siswa dalam mencari dan menemukan kembali hal-hal yang disimpan dan dalam mengorganisasi respons-respons. Gagne (1977a) menyatakan bahwa strategi kognisi itu serupa dengan perilaku pengelolaan diri. Skinner (1968) dan perilaku matemagenik dari Rothkopf (1970) (dalam Yamin, 20046).
Gagne dan Briggs (1974:52) (dalam Yamin, 2004:6) menyatakan suatu contoh strategi kognisi ialah proses inferensi atau induksi. Pengalaman dengan objek-objek atau kejadian-kejadian, dan di situ seseorang berusaha memperoleh penjelasan mengenai suatu gejala tertentu menghasilkan induksi. Sebagai contoh, setelah mengamati gaya sebatang besi berani terhadap paku, siswa mungkin mengamati adanya gaya tarik ini terhadap benda-benda lain, seperti serbuk besi. Bila pengamatan ini menimbulkan inferensi tentang “gaya magnet”, maka siswa tersebut telah melaksanakan suatu strategi yang disebut induksi, manakala diaplikasikan strtategi ini menjadi kapabilitas baru yang siap digunakan sebagai strategi untuk mengahadapi situasi-situasi lainnya.
Berbeda dengan informasi verbal dan keterampilan intelek, yang ada kaitannya langsung dengan isi. Objek strategi kognitif ialah proses berpikir siswa sendiri. Ciri penting yang lain strategi kognitif tidak seperti keterampilan intelek, strategi itu tidak terpengaruh secara kritis oleh pelaksanaan pembelajaran, menit demi menit. Kebalikannya strategi kognisi itu berbentuk strategi kognitif sampai pada derajat tertentu dapat dikembangkan menjadi lebih baik dengan pendidikan formal, dan siswa belajar dan berkembang dengan sendiri, berpikir menjadi mandiri (Gagne 1977a:64) (dalam Yamin, 2005:6).

Program Guru Pembelajar 2016

Guru pembelajar merupakan program diklat Kemdikbud pasca UKG 2015 lalu dimana masih banyak nilai UKG nya yang di bawah standar. Istilah Guru...