Saturday, June 21, 2014

Mempraktekkan Hal-hal Supranatural

Mempraktekkan magic atau hal-hal supranatural tidak akan berdosa sejauh Anda menggunakannya untuk kebaikan dan tidak bersumber dari ‘Yang Jahat’ (roh jahat, setan, iblis, dan mahluk kegelapan lainnya).

Mungkin Anda pernah melihat atau mendengar, para kaum rohaniawan yang mendoakan orang yang sakit, dan orang yang didoakan tersebut perlahan-lahan sembuh. Kesembuhan yang tidak spontan, menandakan bahwa kesembuhan terjadi oleh karena adanya iman, bukan karena faktor turut campur LANGSUNG dari makhluk lain atau Tuhan.  Kesembuhan seperti ini boleh dikata juga karena atas PERIJINAN Tuhan. Jika Tuhan turut campur LANGSUNG, maka kesembuhan akan terjadi secara spontan (langsung sembuh total saat itu juga). Jadi, dengan cara berdoa, para rohaniawan ini telah mempraktekkan magic.

Perlu diingat juga, bahwa kondisi pikiran dan hati Anda juga memancarkan semacam energi ‘gaib’ dimana radiasinya akan mempengaruhi kesehatan Anda, orang-orang, dan makhluk lain di sekitar Anda. Jadi secara tidak sadar Anda juga telah mempraktekkan magic.

.

Mengapakah informasi ini relatif tidak dikenal? Majalah-majalah kedokteran lazimnya menolak, sampai akhir-akhir ini, untuk menerbitkan studi-studi mengenai penyembuhan. Salah satu alasan Benor melakukan tinjauan luas ini ialah untuk mengumpulkan rangkaian penelitian ini menjadi satu buku agar lebih mudah disurvei oleh masyarakat medis.

Temuan-temuan serupa telah dilihat pula pada studi-studi bertutup mata ganda yang dilakukan terhadap manusia. Nampaknya studi-studi bertutup mata ganda terkadang dapat dibelokkan ke arah yang sesuai dengan pikiran serta sikap para penelitinya. Barangkali ini menjelaskan mengapa para peneliti yang skeptis tampaknya tak sanggup mengulang temuan-temuan peneliti yang percaya, dan mengapa “mereka yang percaya sungguh-sungguh” tampaknya lebih mampu membawakan hasil-hasil positif. Keabsahan temuan-temuan percobaan berpuluh-puluh tahun dalam penelitian medis harus dinilai kembali apabila terbukti bahwa pikiran dapat “mengubah data-data ke arah berlawanan.”

Kita harus mempertimbangkan sifat “tak-dapat-diramalkan itu” dalam konteks. Sains menerima banyak fenomena yang sudah menjadi sifatnya tak dapat diramalkan, mulai dari elektron hingga gempa bumi. Kenyataan bahwa saat ini sedang terjadi hujan salju di luar rumah dan bahwa kantor meteorologi tidak meramalkanya, bukanlah berarti bahwa hujan salju itu sekarang tidak terjadi. Demikian juga kenyataan bahwa para penyembuh tidak sanggup bekerja secara teramalkan atau berdasarkan permintaan tidaklah berarti bahwa mereka tak sanggup menyembuhkan. Apa yang menyebabkan sifat tak-dapat-diramalkan tersebut? “Dugaan saya,” kata Benor, “ialah bahwa faktor-faktor yang  berubah-ubah seperti kebosanan, keyakinan dan kebutuhan para peserta membentuk hasil-hasilnya menjadi pola-pola yang teramati tersebut, ditambah dengan berbagai macam faktor luar.”  (MM) baca artikel terbaik lainnya

Program Guru Pembelajar 2016

Guru pembelajar merupakan program diklat Kemdikbud pasca UKG 2015 lalu dimana masih banyak nilai UKG nya yang di bawah standar. Istilah Guru...