Skip to main content

Strategi Kognitif dalam Pendidikan

Tujuan pengajaran yang dilaksanakan di dalam kelas menurut Mager adalah menitik beratkan pada perilaku siswa atau perbuatan (performance) sebagai suatu jenis out put yang terdapat pada siswa dan teramati serta menunjukan bahwa siswa tersebut telah melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Pengajar mengemban tugas utamanya adalah mendidik dan membimbing siswa-siswa untuk belajar serta mengembangkan dirinya. Di dalam tugasnya seorang guru diharapkan dapat membantu siswa dalam memberi pengalaman-pengalaman lain untuk membentuk kehidupan sebagai individu yang dapat hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat modern.
Tugas pengajar tidaklah berakhir tatkala telah selesai menyampaikan materi pelejaran di kelas dengan baik. Seseorang pengajar juga bertanggung jawab untuk membina siswa-siswa dalam  memecahkan permasalahan yang dihadapinya sehari-hari, sehingga mereka betul-betul mampu mandiri dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip dan teori-teori yang telah mereka perdapat di dalam kelas, demikian juga mereka dapat memecahkan masalah yang diberikan guru. Sering kita menemui siswa mampu memecahkan masalah yang diberikan guru, kemudian setelah mereka menemui masalah di luar kelas atau di tengah-tengah masyarakat, mereka tidak mampu mengatasi masalah (yang hampir sama) yang dihadapinya, maka timbul pertanyaan di benak kita, kenapa hal ini sampai terjadi?, barangkali suatu jawaban, masalah yang diberikan guru mudah dipecahkan atau masalah tersebut tidak menantang, mungkin juga masalah itu dipecahkan berkat bantuan guru, atau teman-temannya, barangkali juga siswa-siswa belum mampu mengaplikasikan ilmu, pengetahuan dan keterampilan yang mereka perdapat dari gurunya. Sebenarnya proses belajar di tingkat sekolah lanjutan mereka sudah dibekali dengan pengetahuan tingkat menengah (aplikasi, analisis) dalam kehidupannya dari apa yang mereka perdapat dari guru.
Penilaian takosonomi B.S. Bloom (dalam Yamin, 2005:2) tentang ranah kognitif terbagi dalam tiga kelompok, kelompok pengetahuan rendah, menengah dan tinggi. Aplikasi pada tingkat sekolah lanjutan sudah dimulai pengemblengan secara matang pada masing-masing tingkat, misalnya siswa kelas I SLTP mereka telah memiliki kemampuan pengetahuan dan merupakan tujuan tersebut, siswa-siswa harus mampu memindahkan pengetahuan ke dalam dirinya dan merupakan transfer of knowledge, maka hal demikian dapat disebut strategi kognitif.
Kemampuan kognisi tertinggi menurut Gagne (dalam Yamin, 2005:2) adalah strategi kognisi, atau analisis, sintesis dan evaluasi juga kemampuan kognisi tertinggi menurut Bloom. Strategi kognitif ini dapat dipelajari oleh siswa-siswa dengan guru, kemampuan ini lebih banyak mengajak siswa berpikir dengan memberi bahan atau materi pelajaran yang mana siswa dapat memecahkannya, baik di dalam kelas maupun di dalam kehidupan sehari-hari di luar sekolah. Guru yang berhasil memberi materi terhadap siswa adalah guru yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswanya.
Pemberian materi pelajaran di dalam kelas sebatas memberi informasi, akan tetapi merupakan cikal bakal mereka untuk mengembangkan diri, dan menindak lanjuti apa-apa yang telah mereka perdapat dari informasi awal di dalam kelas.
Mendapatkan pengalaman di luar kelas merupakan bagain strategi kognitif di mana seseorang dapat belajar dari pengalaman dirinya dan pengalaman orang lain. Pengalaman yang didapat oleh siswa di luar kelas akan tercatat dalam benaknya dalam bentuk gagasan dan tanggapan-tanggapan. Gagasan-gagasan dan tanggapan-tanggapan ini akan tertuang dalam kata-kata yang disampaikan kepada orang yang mendengarkan ceritanya.
Dengan demikian pengalaman siswa akan dapat dipresentasikannya dalam bentuk kata-kata dan orang lain akan mengerti apa yang dimaksudnya. Sehingga orang yang mendengar cerita terbawa ke suatu pengalaman yang pernah dialaminya, seperti; seseorang telah berkunjung ke Taman Safari Bogor dan menceritakan pengalamannya tentang binatang kepada teman-temannya, dan teman-temannya tertarik mendengar cerita tersebut. Pengalaman itu akan menciptakan gagasan dan tanggapan yang bersifat mental, di mana dapat menghadirkan sesuatu yang tidak tampak, cerita itu akan menciptakan komunikasi dua arah, seolah-olah ia ikut merasakan, melihat, mengamati, dan menikmati secara mental.
Kemampuan kognitif manusia dapat menghadirkan realitas dunia ke dalam dirinya, mulai dari hal-hal yang berisfat material dan non material seperti memperagakan seekor gajah yang cerdik dengan suasana penonton yang gembira. Oleh sebab itu semakin banyak tanggapan dan gagasan yang dimiliki seseorang, semakin kaya dan luaslah alam internal kognitif orang itu. Kemampuan kognitif itu harus dikembangkan melalui belajar.
Dengan mengajar menurut kaum konstruktivisme bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Dengan demikian mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri.
Guru dilihat dari sebuah profesi ia memiliki peranan yang sangat besar dalam pendidikan, ia harus mampu memberikan kepuasaan, pelayanan dalam proses belajar-mengajar dalam kelas. Siswa mengharap banyak sekali dari guru. Manakala harapan siswa terpenuhi, siswa akan merasa puas, bila tidak, ia akan merasa kecewa.
Guru harus menyadari konsekuensi yang disandangnya, guru dihadapkan pada tantangan, di mana guru diminta harus ramah, sabar, penuh percaya diri, bertanggung jawab, dan menciptakan rasa aman, dilain pihak guru harus mampu memberi tugas, dorongan kepada siswa dalam mencapai tujuan, mengadakan koreksi, pemaksaan, arahan belajar serta teguran agar memperoleh hasil yang optimal. Guru juga harus memiliki kemamuan dan kerelaan untuk memaklumi alam pikiran dan perasaan siswa, dia harus bersedia menerima siswa seadanya. Tetapi guru dalam pergaulannya terhadap siswa harus bersikap kritis, karena siswa tidak dapat dibiarkan dalam keadaan sekarang, apalagi mereka dalam masa puber. Banyak kemampuan yang belum dimiliki siswa dan mereka harus dibantu untuk memperolehnya, terutama dalam sikap dan bertindak sehingga mereka mampu berpikir dan mempergunakan pikiran lebih luas serta mengembangkan diri.
Berpikir yang baik adalah lebih penting daripada mempunyai jawaban yang benar atas suatu persoalan yang sedang dipelajari. Seseorang yang mempunyai cara berpikir yang baik, dalam arti bahwa cara berpikirnya dapat digunakan untuk menghadapi suatu fenomena baru, akan dapat menemukan pemecahan dalam menghadapi persoalan lain. Sementara itu, seorang siswa yang sekedar menemukan jawaban benar belum pasti dapat memecahkan persoalan yang baru karena mungkin ia tidak mengerti bagaimana menemukan jawaban itu. Bila cara berpikir itu berdasarkan pengandaian yang salah atau tidak dapat diterima pada saat itu, ia masih dapat memperkembangkannya. Mengajar, dalam kontek ini, adalah membantu seseorang berpikir secara benar dengan membiarkan berpikir sendiri. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Popular posts from this blog

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013

B. KOMPETENSI INTI
Rumusan Kompetensi inti menggunakan notasi berikut ini.
1. Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual.
2. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial.
3. Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan.
4. Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.
Uraian tentang Kompetensi Inti untuk jenjang Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV adalah sebagai berikut.
1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya.
3. Memahami pengetahuan faktual denagn cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam gerakan yang mencerminkan …

Fungsi, Tujuan, dan Ciri-ciri Pembelajaran Tematik terpadu

Pembelajaran tematik terpadu berfungsi untuk memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam memahami dan mendalami konsep materi yang tergabung dalam tema serta dapat menambah semangat belajar karena materi yang dipelajari merupakan materi yang nyata (kontekstual) dan bermakna bagi peserta didik.
Tujuan pembelajaran  tematik terpadu adalah:
a. mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu;
b. mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi muatan pelajaran dalam tema yang sama;
c. memiliki pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
d. mengembangkan kompetensi berbahasa lebih baik dengan mengkaitkan berbagai muatan pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik;
e. lebih bergairah belajar karena mereka dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, seperti bercerita, bertanya, menulis sekaligus mempelajari pelajaran yang lain;
f. lebih  merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disajikan dalam konteks tema yang jelas;
g. guru  d…

Teknik Visualisasi Kreatif yang Benar

Motivasi Mindset - Visualisasi Kreatif adalah magic dalam arti sesungguhnya. Magic adalah memahami dan memposisikan diri selaras dengan prinsip-prinsip alam yang mengatur dan bekerja pada alam semesta, dan belajar untuk menggunakan prinsip-prinsip tersebut dengan cara sadar dan sekreatif mungkin.

Dengan memvisualisasikan kejadian, situasi, atau sebuah benda seperti mobil, rumah, kesehatan, kita menarik mereka kepada kita. Kita melihat apa yang kita inginkan dalam imajinasi dan ini akan terjadi. Ini seperti mimpi atau omong kosong. Tetapi sebenarnya ini adalah proses alami dari kekuatan pikiran (thoughts).

Bagaimana Creative Visualisasi Bekerja

Untuk memahami bagaimana Visualisasi Kreatif bekerja, adalah penting untuk melihat beberapa prinsip yang saling berhubungan:
Alam fisik adalah energi
Energi adalah magnet (energi sejenis akan menarik energi sejenis)
Bentuk fisik (physical energy) mengikuti ide (mental energy)
Apa pun yang kita berikan kepada alam semesta akan kembali kepada kita lagi

Em…