Thursday, December 25, 2014

Pikiran dan Perasaan Positif dalam Mengejar Impian

Dari: Adi W Gunawan
Dalam mengejar goal atau target seringkali kita terjebak dalam persepsi sempit dan keyakinan semu karena merasa "yakin" dan "pasti" mampu mencapainya.
Bila diri berani jujur dan terbuka menelisik alasan yang mendasari rasa yakin semu ini maka seringkali ditemukan hal yang sangat berbeda.
Seringkali seseorang hanya terpaku pada hasil yang indah, bagus, gemilang, cemerlang, tanpa memikirkan risiko yang mungkin terjadi.
Saat pikiran dan perasaan positif hanya terpaku pada hasil akhir, yang tentu sangat didamba, namun lupa berpikir kristis dan logis menimbang berbagai risiko terburuk, biasanya hasilnya tidak baik.
Ini yang banyak terjadi pada orang yang saya jumpai dalam perjalan hidup. Umumnya mereka berkata, "Kalau dulu saya tahu jadinya seperti ini, saya pasti tidak akan melakukan kerja atau usaha ini."
Semangat untuk sukses tentu sangat bagus. Dan akan sangat bagus lagi bila semangat ini dilandasi pemikiran rasional yang bertanggung jawab, tidak asal semangat.
Beberapa tahun lalu ada seorang sahabat yang dengan sangat yakin menjalankan sebuah bisnis jaringan dan membuat kartu nama berisi fotonya dan tulisan "Manusia Dua Miliar Rupiah". Ia dengan sangat yakin dan percaya diri mengatakan bahwa dalam waktu dua tahun ia pasti mampu mencapai target ini.
Saya tentu sangat mendukung upayanya. Dan saat saya tanya bagaimana strateginya untuk mencapai target ini, ia tidak bisa memberikan jawaban detil. Ia hanya berkata, "Pokoknya saya yakin sekali bisa mencapai goal saya ini."
Ini sudah hampir lebih dari tujuh tahun namun ia tidak mencapai apapun dan malah sudah berhenti dari bisnis jaringan ini.
Untuk memulai satu kegiatan atau usaha atau bisnis sebaiknya tidak hanya mengandalkan berpikir positif. Yang lebih penting adalah perasaan positif. Pikiran dan perasaan positif ini perlu didukung oleh data yang akurat sehinga benar-benar valid.
Selain berpikir positif kita juga perlu berpikir (sangat) negatif namun yang terkendali. Ini penting agar terjadi keseimbangan konstruktif dan produktif. Kita perlu memikirkan kondisi terburuk yang mungkin terjadi. Bila yang terburuk dapat kita atasi maka untuk mencapai yang positif tentu sangat melegakan.
Ada lagi seorang sahabat yang ingin bukan resto. Selama ini ia memang dikenal sangat pintar memasak. Saat bertanya pada saya, saya memberi pendapat bahwa membuka resto tidak sesederhana yang dibayangkan. Benar, ia pintar masak. Namun, untuk menjalankan usaha resto membutuhkan pengetahuan dan kecakapan lain. Ia perlu memahami manajemen, mengatur arus kas, karyawan, perijinan, promosi, pajak, kendali mutu, sewa tempat, dll... dll. Memasak hanya satu aspek dari bisnis yang akan ia jalankan.
Saya sarankan ia untuk buka depot dulu. Nanti dari sini, kalau ternyata hasilnya bagus dan ia sudah punya pengalaman yang memadai, dan terutama ia suka dan menikmati kerjanya, barulah buka resto yang lebih besar. Sebaiknya semua dilakukan tahap demi tahap. Mulai dari yang kecil namun targetnya sesuatu yang besar.
Sahabat ini kecewa dan marah dengan saran saya. Ia merasa saya tidak mendukung niat baiknya. Saya bisa memahami kekecewaannya. Tapi inilah saran terbaik yang bisa saya berikan padanya, demi kebaikannya.
Manusia seringkali tidak siap atau tidak bersedia mendengar saran atau pendapat yang tidak sejalan dengan pengharapannya. Memang demikianlah kerja persepsi yang mengunci kita pada satu pemikiran tertentu. Dibutuhkan kejujuran dan keberanian diri untuk membuka diri dan menerima saran atau masukan yang belum tentu sejalan dengan pengharapan kita.

Program Guru Pembelajar 2016

Guru pembelajar merupakan program diklat Kemdikbud pasca UKG 2015 lalu dimana masih banyak nilai UKG nya yang di bawah standar. Istilah Guru...